Jumat, 11 November 2016

Filsafat?

Filsuf; Plato (kiri) dan Aristoteles (kanan)
menurut lukisan Raffaelo Sanzio tahun 1589
Sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai tertarik dengan berbagai pemikiran manusia yang muncul di sepanjang jaman. Ketertarikan saya ini kemudian tersalurkan dengan membaca karya-karya yang memuat berbagai produk pemikiran manusia yang diwakili oleh tokoh-tokoh sentral dalam setiap tahapan sejarah melalui buku-buku filsafat. Ketertarikan saya ini kemudian terus berlanjut dan mulai mendapatkan akses ketika saya memutuskan untuk mengambil studi Sosiologi di universitas.

Dalam studi yang saya lakukan saya menemukan satu kaidah, suatu kaidah dalam ilmu pengetahuan, yaitu sebagaimana yang banyak dinyatakan oleh para ahli, bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang ada pada saat ini, semuanya, tanpa terkecuali, semula bermuara pada filsafat. Oleh karena itu, filsafat seringkali disebut sebagai induknya ilmu pengetahuan.

Tentu kita tidak asing lagi dengan kata filsafat. Namun kemudian muncul satu pertanyaan yang mendasar, yaitu tentang "apa itu filsafat?" dan "apa fokus kajian filsafat?"

Definition of Philosophy

Kata filsafat (bahasa Inggris; Philosophy) berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia. Kata Philosophia sendiri tersusun dari dua kata, yaitu Philein dan Sophia. Philein artinya adalah mencintai sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan atau dalam bahasa Inggris disebut wisdom. Jadi filsafat dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang melekat pada manusia dimana orang tersebut memiliki sifat dan perbuatan mencintai kebijaksanaan. Kata 'mencintai' disini kemudian dimaknai secara luas sebagai sebuah perilaku mencari, mengusahakan, merindukan atau berusaha meraih. Sedangkan kata 'kebijaksanaan' dimaknai dalam arti luas sebagai kebenaran, dimana didalam kebenaran itu terkandung cita rasa intelektual yang tinggi karena bersandar pada nilai-nilai yang bukan hanya bermakna cerdas tetapi juga bermoral dan berbudi. Jadi singkatnya, filsafat adalah upaya manusia untuk meraih kebijaksanaan atau kebenaran setinggi-tingginya dan seluas-luasnya. Seseorang yang ahli dalam filsafat disebut Filsuf.

Kata 'berusaha meraih' perlu ditekankan karena bermakna bahwa yang penting dilakukan manusia itu adalah "proses mencari" dan bukan "memiliki" untuk mencapai kebijaksanaan yang dimaksud tadi. Karena seperti diketahui, kebijaksanaan dan kebenaran yang ideal, yang sesungguhnya, tidak pernah bisa diraih atau dimiliki oleh manusia. Socrates, misalnya, disebut sebagai orang yang bijaksana karena mengakui bahwa dirinya belum memiliki dan menjadi orang bijaksana. Maka orang yang mengaku dirinya bijaksana itulah justru adalah orang yang tidak bijaksana, karena ia akan berhenti mencari kebijaksanaan yang sesungguhnya yang mungkin lebih tinggi dan lebih mulia.

Sahabat, sebagaimana lazimnya sebuah ilmu atau pengetahuan, filsafat juga mempunyai objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah seluruh kenyataan alam semesta ini baik yang bersifat materi (kebendaan) maupun yang bersifat non-materi (bukan kebendaan). Intinya, seluruh hal yang dapat dipikirkan manusia, maka itulah objek material filsafat. Sedangkan objek formal atau sudut pandang kajian filsafat itu adalah (sifat) kritis, refleksif, dan radikal.

Kritis artinya bahwa orang yang berfilsafat itu tidak mudah menerima sesuatu yang dikatakan atau disampaikan orang lain sebagai benar seluruhnya atau sebagai salah seluruhnya. Dalam artian ini, orang yang berfilsafat dapat dipahami sebagai orang yang tidak selalu berprasangka buruk dan juga tidak selalu berprasangka baik. Boleh jadi sikap ini mirip dengan sikap waspada. Namun kewsapadaan ini didorong oleh keinginan yang dalam untuk mencari jawaban atau rumusan yang lebih baik. Menganggap apa yang disampaikan orang itu baik atau benar seluruhnya maupun buruk atau salah seluruhnya mengakibatkan kita menutup peluang diri kita sendiri untuk mencari kebenaran yang paling hakiki. Demikianlah, maka apapun yang disampaikan orang itu ada benarnya dan juga ada salahnya tetapi tidak seluruhnya. Oleh karena itu, dengan sikap kritis tadi, kita senantiasa menciptakan kesempatan dan memupuk peluang untuk mencari rumusan atau jawaban yang lebih baik atas semua pertanyaan dan pernyataan yang diajukan.

Kemudian refleksif; refleksif artinya bahwa proses pencarian kebenaran yang dilakukan manusia hendaknya berkelanjutan, terus menerus, dan berkesinambungan.

Sedangkan radikal merupakan efek dari berpikir kritis dan refleksif tadi. Sebagai akibat dari sikap kita yang tidak mudah percaya pada sikap dan pernyataan orang, maka kita sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, mengakar, fundamental, dan esensial. Kata radikal itu sendiri berasal dari kata radix yang artinya akar, dasar, atau fundamen. Pertanyaan-pertanyaan mendasar memerlukan jawaban yang mendasar pula. Jawaban mendasar yang dicari tentu diharapkan lebih baik.

Dengan demikian, pengertian kritis, reflektif, dan radikal itu memiliki makna bahwa orang yang mempelajari filsafat sudah semestinya memiliki sifat open minded dan optimistik.

Bidang Kajian Filsafat

Persoalan-persoalan yang dikaji dalam filsafat mencakup banyak hal, antara lain persoalan ketuhanan, astrologi, astronomi, ilmu alam, politik, hukum, ekonomi, ketatanegaraan, dan lain sebagainya. Namun, menurut para ahli, secara garis besar pemahaman filsafat berangkat dari beberapa pertanyaan; Pertama, "What can I know?" (Apa saja yang dapat manusia ketahui?) Kedua, "What ought I to do?" (Apa yang musti manusia lakukan?) Ketiga, "What may I hope?" (Apa yang dapat manusia harapkan?) Dan keempat, "What is man?" (Siapakah sesungguhnya manusia itu?).

Metafisika dan ontologi menjawab pertanyaan pertama. Etika menjawab pertanyaan kedua. Agama menjawab pertanyaan ketiga. Dan sosiologi-antropologi menjawab pertanyaan keempat. Namun beberapa ahli menyatakan bahwa semua pertanyaan diatas dapat digabungkan dan dapat diperhitungkan ke dalam pertanyaan keempat; "What is man?", yaitu tentang hakikat keberadaan manusia, yang untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka seseorang harus "terus berusaha mencari" dengan mengkaji segala hal. Dengan demikian melekat padanya kebijaksanaaan-kebijaksanaan yang itu tidak membuatnya berhenti "mencari", alih-alih seseorang yang berfilsafat, ia terus menjadi seorang yang pembelajar, open minded, positive thinking, dan optimistik.

Sumber;
  • Akhyar Yusuf, Irawan, 2010, Filsafat Sosial,
  • Parwitaningsih, dkk, 2014, Pengantar Sosiologi,
  • Sumber gambar ilustrasi; id.wikipedia.org, dan
  • Diolah dari berbagai sumber.




Baca artikel lainnya;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar