Sabtu, 08 April 2017

Buku, Gadget, atau Internet?


Ikonik: Muqaddimah, karya Ibnu Khaldun.

Tahun 2003 saya duduk di bangku kelas dua SMP, suatu hari di jam pelajaran sejarah guru sejarah kami memberikan sebuah materi yang membahas tentang seorang tokoh dibalik pembangunan Jalan Nasional Rute - 1 atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Jalur Pantura (jalur pantai utara - Jawa), Herman Willem Daendels, seorang Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1808-1811. 

Seperti pembelajaran pada kesempatan biasanya, banyak pembelajaran yang disampaikan guru kami - yang sulit sekali kutipannya saya ingat satu persatu saat ini, kelas itu berlangsung kurang lebih 14 tahun yang lalu.

Pembahasan berlanjut hingga sampailah pada guru sejarah kami berkisah tentang seorang tokoh lainnya bernama Thomas Stamford Raffles, yang juga seorang pejabat Gubernur-Letnan Hindia Belanda dibawah kerajaan Inggris. Saat itu saya mulai menyenangi aktifitas membaca sehingga ketika guru sejarah kami menceritakan tentang sebuah buku yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, saya begitu antusias kala itu. Nama buku tersebut terus terngiang di fikiran saya hingga berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya. “The History of Java”, sebut guru sejarah kami memperkenalkan judul buku tersebut kala itu.

Ketika saya datang ke Surabaya pada 2007, sejak saat itu, setiap berkesempatan pergi ke toko buku, terutama saat berkunjung ke toko-toko buku bekas, saya hampir selalu menanyakan keberadaan buku ini kepada para pedagangnya. Padahal tak terpikirkan sama sekali saat itu bahwa kalaupun ada buku tersebut barangkali saya tidak akan mampu membelinya. Buku tua berangka tahun 1817 bisa dibayangkan berapa juta rupiah harganya. Lagipula, saya juga akan kesulitan dalam memahami isi buku tersebut yang berbahasa Inggris.

Belakangan, di sebuah Ahad pagi, saya temukan buku tersebut dalam bentuk terjemahannya (dalam bahasa Indonesia) di sebuah perpustakaan umum di kota Surabaya 9 tahun kemudian sejak pertama kali saya dengar nama atau judul buku tersebut. Butuh waktu paling tidak dua sampai tiga bulan saya menyelesaikan membaca buku setebal 904 halaman ditambah 36 halaman pengantar tersebut.

Pertama kali saya berkunjung ke perpustakaan umum pada 2007. Perpustakaan umum yang saya ketahui dan kemudian saya kunjungi untuk pertama kalinya adalah perpustakaan dan kearsipan provinsi Jawa Timur di kota Surabaya yang belakangan saya kerasan berlama-lama membaca disana dan bolak-balik kembali mengunjunginya, hingga saat ini. Beberapa tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya pula saya mengenal dan dapat mengakses layanan internet. Saya ingat betul saat itu saya sering begadang semalaman untuk sekedar menghabiskan waktu di warnet. Saya sering membeli paket sewa internet malam hari karena warnet langganan saya saat itu memberlakukan tarif hemat paket sewa internet malam sehingga tarif sewa internet pada malam hari jauh lebih murah ketimbang paket sewa di siang hari.

Sejak mengenal internet, saya merasa perhatian saya mulai terbagi; antara membaca buku dan mengakses internet. Namun saya tidak ambil pusing, saat itu saya merasa bahwa buku atau internet sama saja. Dua-duanya memberikan banyak informasi untuk saya, dua-duanya memberikan kepuasan terhadap setiap keingintahuan yang muncul di otak saya, dua-duanya dapat menjadi input bagi wawassan dan pola pikir saya, terlepas dari kelebihan dan kelemahanya masing-masing. Meskipun demikian, buku tetap lebih saya senangi. Intensitasnya pun berbeda antara membaca buku dan mengakses internet. Dalam seminggu, barangkali hanya satu atau dua kali saya mengakses internet karena untuk mengaksesnya saya musti pergi ke warnet. Selain itu, hanya pada akhir pekan saya dapat begadang semalaman dengan pertimbangan siang harinya libur dari pekerjaan. Berbeda halnya dengan buku. Saya mempunyai koleksi buku yang cukup untuk saya baca setiap saat. Buku dapat saya baca sewaktu-waktu, kapanpun dan dimanapun. Selain itu, saya dapat berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku-buku kapanpun saya inginkan.

Tahun 2010, saya membeli sebuah smartphone yang meskipun tidak terlalu canggih pada masa itu, namun cukup banyak fitur yang membuat gadget tersebut mumpuni untuk disebut sebagai telepon pintar (smart-phone), lengkap dengan fitur kamera digital beresolusi tinggi, pemutar musik dan video, video game, internet browser, pengolah data sederhana, dan lain sebagainya. Sebelum mempunyai smartphone tersebut, saya mampu membaca buku-buku dari perpustakaan atau koleksi saya sendiri rata-rata 2 sampai 4 judul buku setiap bulan bergantung pada jenis dan ketebalan buku. Namun sejak hari pertama hingga satu bulan pertama saya memiliki smartphone, tidak satu judul buku pun saya selesaikan, bahkan hanya beberapa sub-bab yang saya baca. Saya merasa terjadi pola tingkah laku yang berubah pada diri saya. Saya merasa ada yang berubah pada habit saya yang perubahan tersebut tidak menguntungkan bagi saya sehingga menurut hemat saya perubahan tersebut tidaklah realistis. Sehingga, sebelum memasuki bulan ke dua smartphone tersebut berada di tangan saya, segera saya menjualnya dan kembali menggunakan handphone yang lebih sederhana - juga kembali mengambil foto menggunakan kamera saku, kembali menonton video melalui DVD, dan kembali mengakses internet melalui komputer. Bulan-bulan berikutnya, saya kembali menyelesaikan 2 sampai 4 judul buku setiap bulannya.

Ikonik. Buku ‘The History of Java’ .
Buku adalah sebuah hasil karya yang begitu ikonik. The History of Java karya Thomas Stamford Raffles tersebut adalah salah satunya. Buku tersebut ditulis lebih dari 200 tahun yang lalu (terbit pertama kali di Inggris pada tahun 1817), yang merupakan laporannya kepada pemerintah kerajaan Inggris mengenai penelitiannya saat bertugas di pulau Jawa pada 1811-1816, dan masih banyak dibaca orang hingga saat ini. Buku lainnya misalnya Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, ditulis lebih dari 600 tahun lalu, masih dikaji banyak orang, bahkan menjadi kajian penting di kalangan akademis di perguruan tinggi, kususnya dalam studi sosiologi, hingga saat ini. Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, ditulis lebih dari 900 tahun yang lalu, hingga saat ini, siapa yang tidak mengenal kitab Ihya’ Ulumiddin, terlebih di kalangan santri, ulama, dan cendekiawan muslim, serta banyak lagi karya-karya buku ikonik lainnya. Sebaliknya, sejak mengenal yang namanya internet, hingga saat ini belum pernah saya dapati sebuah situs web (website) dalam internet yang sebegitu ikonik.

Ketika membaca sebuah buku, buku yang tebal sekalipun, kita hampir selalu dapat mengingat materinya, atau paling tidak intisarinya, dan dapat melacak kembali dari apa yang kita baca pada bab-bab sebelumnya yang kita baca pada minggu-minggu sebelumnya. Bahkan kita juga dapat melacak buku apa saja yang telah kita baca pada bulan-bulan atau tahun-tahun sebelumnya. Namun, kita hampir tidak dapat mengingat artikel apa saja yang telah kita baca secara online kemarin, minggu lalu, atau bulan lalu. Kita juga selalu kesulitan untuk melacak apa yang telah kita baca di internet pada kesempatan terdahulu.

Latar belakang dan kasus yang saya alami tentu berbeda dengan latar belakang dan kasus yang Anda alami. Jadi, buku, gadget, atau internet? Semua ada di tangan Anda!



Baca artikel lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar