Tentang Cakrawana Inspirasi


Cakrawana Inspirasi - blog Cakrawanainspirasi.com dan fanpage Cakrawana Inspirasi - adalah media berbagi (sharing); inspirasi, ide, gagasan, serta capaian wawasan-wawasan pribadi penulis; Mukminun Muhtadi. Secara umum, penulis mendasarkan tulisan-tulisannya kepada pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep dalam Islam, isu-isu pendidikan masyarakat (non-formal education), serta isu-isu dan konsep-konsep socio - logical - natural.

Harapannya, tulisan-tulisan yang penulis share dalam blog ini dapat menjadi khasanah wawasan, cakrawala iman-Islam, inspirasi edukasi, serta wawasan lingkungan dan alam - Lillaahi ta'aala - bagi para sahabat-sahabat pembaca semuanya.

Kritik, saran, masukan, serta komentar yang membangun, untuk konten yang lebih berkualitas dimasa mendatang sangat penulis harapkan dari sahabat-sahabat pembaca sekalian. Silahkan berkomentar terkait tema posting pada setiap masing-masing posting yang telah dipublikasikan.



Makna & Filosofi "Cakrawana Inspirasi"

Secara harfiyah, kata “Cakrawana” penulis ambil dari bahasa Jawa yang terdiri dari gabungan dua kata, yaitu Cakra dan Wana (dalam ejaan dan aksen Jawa: Cokro & Wono). Cokro artinya roda atau lingkaran dan Wono artinya hutan, sehingga secara harfiyah Cakra-wana berarti “roda hutan”, “lingkaran hutan”, “lingkungan hutan" atau "ekologi hutan”. Sehingga dalam penggunaannya, penulis memaknainya dengan “ekologi hutan”. Ekologi hutan inilah yang kemudian menginspirasi Penulis karena didalamya kaya sekali akan inspirasi serta syarat filosofi yang begitu mendalam. Lalu, inspirasi dan filosofi apa yang dapat kita peroleh dari ekologi hutan?

Hutan adalah sebuah mega industri, pabrik raksasa yang memproduksi serta membagikan produknya secara gratis untuk seluruh mahluk hidup di seluruh dunia, termasuk untuk manusia. Apa produk yang dihasilkan oleh hutan? Yup, tidak lain dan tidak bukan adalah oksigen yang kita hirup setiap saat untuk kita bernafas.

Seperti kita ketahui, oksigen (O2) adalah senyawa kimia yang sangat penting bagi berbagai kehidupun di muka bumi. Oksigen adalah unsur penting pertama yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup seluruh mahluk hidup di muka bumi, termasuk manusia. Oksigen bahkan jauh lebih utama bagi metabolisme tubuh daripada makanan dan air. Tubuh manusia mampu bertahan selama kurang lebih dua minggu tanpa makanan dan mampu bertahan selama 3 hingga 7 hari tanpa air, namun tanpa oksigen, tubuh manusia hanya akan mampu bertahan dalam hitungan beberapa menit saja. Yup, tanpa bernafas, manusia hanya mampu bertahan hidup dalam hitungan beberapa menit saja. 

Selain dibutuhkan untuk metabolisme tubuh mahluk hidup, oksigen juga dibutuhkan untuk kinerja berbagai macam mesin-mesin buatan manusia. Mesin mobil, motor, kapal, pesawat, dan mesin dalam kendaraan-kendaraan lain yang biasa kita kendarai itu, serta mesin-mesin idustri dan lain sebagainya, selain membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), ia tidak akan mampu beroperasi dan bekerja tanpa adanya udara beroksigen.

Selain pabrik raksasa yang memproduksi oksigen dalam jumlah tak terbatas, hutan juga merupakan mesin raksasa yang bertugas menyerap dan mengolah karbon dioksida (CO2), yaitu gas buang yang dihasilkan dari sisa metabolisme tubuh atau sisa pembakaran dalam ruang bakar mesin.

Dalam literatur yang penulis baca disebutkan bahwa tiga buah pohon berukuran sedang mampu menyerap karbon dioksida dan memproduksi oksigen dalam jumlah yang mampu mencukupi kebutuhan oksigen untuk seorang manusia dewasa. Maka bayangkan betapa banyak oksigen yang diproduksi serta karbon dioksida yang terserap oleh hutan yang beratus-ratus bahkan berjuta-juta hektar luasnya di muka bumi ini. Itu hanya salah satu fungsi dari sekian banyak fungsi dari hutan, dan tentu masih banyak lagi fungsi-fungsi lain yang dapat diperankan oleh hutan.

Disini Penulis perlu tekankan bahwa pohon berbeda dengan hutan. Pohon hanya salah satu unsur dari ekologi hutan, sedangkan ekologi hutan terbentuk atau tersusun dari beragam elemen yang kemudian membentuk sebuah system dalam hutan yang elemen-elemen tersebut tidak dapat terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Didalam hutan tidak hanya ada pohon-pohon. Disana ada batu, tebing, bukit, disana ada banyak bentuk kehidupan, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya, termasuk didalamnya tegakan pohon hutan, dan itu semua membentuk satu kesatuan. Dari semua unsur pembentuk hutan tersebut maka menghasilkan sebuah ekologi hutan, sebuah lingkungan hutan, termasuk suasana dan iklim didalamnya. Ketika satu pohon di hutan mati, pohon yang mati tersebut akan tergantikan atau teregenerasi oleh pohon berikutnya. Maka siklus ekologi hutan berlangsung secara terus-menerus tanpa henti, selama hutan itu sediri masih ada.

Masya Allah. Allah Swt. melalui mega industri-Nya yang disebut hutan, memproduksi produknya dalam jumlah yang tak terbatas dan membagikan produknya tersebut secara cuma-cuma alias gratis kepada seluruh kehidupan di berbagai penjuru bumi, secara terus-menerus tanpa henti. Amazing, bukan!

Harapannya, dengan mengambil inspirasi dan filosofi dari "Cakra Wana" atau “siklus ekologi hutan” tersebut diatas, melalui Cakrawana Inspirasi penulis dapat menjadi pribadi yang mampu menebarkan manfaat bagi sebanyak mungkin pembaca, serta menjadi pribadi yang mampu sebisa mungkin menjaga diri dan meredam segala hal yang berpotensi menimbulkan hal-hal negatif, hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Bukan sebalikya, sedikit sekali bermanfaat bagi orang lain, malah menebar berbagai kebencian dan kemudharatan kepada banyak orang. Na'udzubillah.

Selain itu, dengan Cakrawana Inspirasi, penulis juga berharap dapat menyisihkan sedikit waktu, tenaga, pikiran, dan doa penulis dan membagikan kemanfaatan melalui tulisan-tulisan di Cakrawana Inspirasi ini. Memang, penulis sadar betul bahwa penulis tidak akan mampu membagikan kemanfaatan dalam Cakrawana Inspirasi ini layaknya hutan membagikan kemanfaatannya kepada seluruh kehidupan. Namun paling tidak, Cakrawana Inspirasi dapat menjadi aksi atau tindakan sederhana penulis yang positif, lillaahi ta’aala, dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis pribadi dan orang-orang disekitar, kususnya pembaca sekalian.

Baarakallaahu fii kum...