Kamis, 12 April 2018

Buku, Perpustakaan, dan Masyarakat Daerah


Tahun 2011, United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) melakukan sebuah penelitian mengenai literasi di Indonesia dan menyebutkan bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia berada pada angka 0,001 persen, yang artinya bahwa dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang memiliki minat yang baik dalam hal membaca buku.

Tahun 2016, hasil studi Most Littered Nation in The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University juga merilis hasil pemeringkatan literasi dunia yang menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Artinya tingkat literasi kita berada pada peringkat kedua terakhir. Persis berada dibawah Thailand dan diatas Botswana (Jawa Pos, Jumat, 21 April 2017).

Juga, seperti dilansir regional.kompas.com, 28 April 2016, Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Titik Kismiati mengungkapkan bahwa minat baca penduduk Indonesia sangat rendah. Merujuk pada data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi dan hanya sekitar 17,58 persen saja penduduk Indonesia yang gemar membaca buku, surat kabar, atau majalah. Tahun 2015, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas/PNRI) juga melakukan sebuah kajian. Hasilnya, indeks minat baca masyarakat juga menunjukkan angka 25,1 yang menurut standar PNRI, angka tersebut menunjukkan kategori rendah (regional.kompas.com, 28 April 2016).

Jika kita perhatikan dengan lebih seksama, budaya atau minat baca masyarakat Indonesia saat ini memang dapat kita katakan masih kalah dari budaya atau minat baca masyarakat di negara lain. Kita ambil contoh Jepang, misalnya. Sebuah data menyebutkan bahwa setiap orang di negara tersebut rata-rata membaca 21 buku per tahun. Demikian pula pada negara Barat. Budaya literasi di dunia barat, Amerika misalnya, dapat dikatakan jauh melampaui Indonesia saat ini. Sebuah data menyebutkan, rata-rata warga Amerika berusia 18 tahun ke atas membaca 11 - 20 buku dalam waktu satu tahun. Bahkan, 25 persen warga negara tersebut membaca lebih dari 21 buku dalam satu tahun. Tingginya aktivitas literasi di negara tersebut, selain karena minat baca warganya yang cukup tinggi, juga ditunjang oleh keberadaan perpustakaan-perpustakaan umum di setiap kotanya. Sementara, sebuah data menyebutkan, rata-rata masyarakat kita hanya membaca 7 buku per orang per tahun. Bahkan, menurut Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) (dalam Kumparan.com, 17 Mei 2017), pada 2015, rata-rata orang Indonesia hanya membaca 2 buku per tahun.

Ketidakterjangkauan buku dan bahan literasi lainnya, ketiadaan perpustakaan umum, serta urgensitas kebutuhan masyarakat daerah terhadap akses informasi dan ilmu pengetahuan, merupakan persoalan klasik yang berlangsung sejak sangat lama.

Saat SMP (tahun 2003), saya mulai antusias dengan aktivitas membaca, khususnya membaca buku. Namun tidak banyak yang bisa saya lakukan saat itu. Saya tinggal di sebuah desa pelosok yang berada di perbatasan antara kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Letak desa kami pun berada di ujung teratas bersama desa-desa lain disekitarnya yang membentuk “pager gunung” melingkar di sepanjang lereng gunung Sumbing. Meskipun secara administratif desa kami berada dibawah wilayah administrasi kabupaten Wonosobo, namun karena terbatasnya akses, memaksa aktivitas kami lebih banyak bersinggungan dengan wilayah administrasi kabupaten Magelang. Baik dalam kegiatan pendidikan, sosial, maupun kegiatan ekonomi. Satu-satunya pasar terdekat yang terjangkau oleh kami berada di wilayah kabupaten Magelang. Satu-satunya sekolah yang terjangkau dalam radius desa kami adalah sekolah dasar (SD), sehingga tidaklah mengherankan pada saat itu barangkali 99 persen pendidikan yang dapat kami jangkau hanyalah sekolah dasar. Beberapa diantara kami yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melanjutkan sekolah di jenjang SMP harus berjalan kaki hampir 4 kilometer setiap hari dan itu juga berada di kabupaten tetangga, Magelang.

Tidak ada perpustakaan di desa kami. Tidak ada taman bacaan, tidak ada surat kabar atau koran sampai disana. Satu-satunya koran yang sampai di desa kami adalah koran dalam bentuk potongan-potongan kecil yang digunakan oleh para produsen tempe untuk melapisi daun pembungkus tempe yang mereka jual, yang saat itu seringkali menarik perhatian untuk saya baca dan memang seringkali juga saya temukan potongan tulisan-tulisan menarik dalam koran pembungkus tempe tersebut.

Mengenai koran bungkus tempe ini, terdapat satu pengalaman yang begitu berkesan bagi saya. Sekitar akhir tahun 1990 an, saat itu saya duduk di bangku sekolah dasar, sebuah agenda kegiatan pengajian umum akan berlangsung di desa kami. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin dan telah berlangsung sejak sangat lama di desa kami. Selain kegiatan pengajian umum, kegiatan tersebut juga menjadi ajang bagi masyarakat desa-desa lain di sekitar desa kami untuk bersilaturrahim dengan keluarga atau sanak saudara mereka yang berada di desa kami. Sehingga seperti biasanya, ketika kegiatan ini hendak berlangsung, masyarakat di desa kami akan mempersiapkan berbagai macam hal untuk menyambut berlangsungnya kegiatan ini, termasuk memasak beraneka macam sajian untuk menyambut keluarga dan sanak saudara yang akan datang dan juga untuk menjamu tamu-tamu atau pengunjung pengajian.

Olahan atau masakan tempe menjadi sajian yang wajib disediakan oleh setiap masyarakat di desa kami karena tempe menjadi masakan istimewa bagi masyarakat desa kami kala itu. Begitu pula dengan ibu saya yang kala itu juga memasak tempe. Namun bukan soal pengajian, masakan tempe, atau masakan ibu. Ini soal koran bungkus tempe. Ya, koran bekas bungkus tempe.

Saya turut membantu ibu mempersiapkan bahan-bahan untuk ibu masak kala itu dan seperti biasa, membantu ibu mengupas atau membuka tempe dari bungkus-bungkusnya adalah bagian yang paling saya suka. Kenapa demikian? Para produsen tempe di daerah kami menggunakan dua lapisan bungkus untuk mengemas tempe-tempe yang mereka buat. Lapisan utama bungkus tempe tersebut menggunakan daun pisang sedangkan lapsan luarnya menggunakan potongan-potongan koran bekas, sehingga sembari saya mengupas tempe-tempe itu saya dapat mencari, menemukan, dan membaca berbagai potongan-potongan artikel dalam potongan-potongan koran pembungkus tempe tersebut, dan sering sekali saya menemukan potongan-potongan artikel yang sangat menarik bagi saya kala itu. Anda boleh membayangkan apabila saat sekarang ini kita hendak mencari sebuah informasi tinggal membuka peramban (browser) internet kita lalu mengetikkan kata kunci pencarian yang kita inginkan lalu kemudian informasi akan muncul tersaji saat itu juga, maka membaca satu-persatu potongan-potongan koran yang bercampur dengan daun-daun bekas bungkus tempe tersebut adalah cara terbaik saya dan memang satu-satunya cara bagi saya untuk browsingdan mendapatkan suatu informasi secara acak kala itu.

Satu artikel menarik saya temukan saat itu adalah sebuah artikel yang memuat berita tentang Prof. B.J. Habibie dan peluncuran pesawat nasional N-250. Masih terbayang kala itu saya merasa senang sekali menemukan artikel tersebut. Apalagi artikel berita tersebut dilengkapi dengan foto pesawat nasional N-250 dengan visualisasi yang begitu menarik. Begitu gembiranya kala itu. Saya yang notabene saat itu masih anak-anak, seperti menemukan harta karun dalam tumpukan daun dan potongan-potongan koran bekas bungkus tempe tersebut. Padahal, artikel tersebut hanya memuat berita yang barangkali telah dipublikasikan beberapa bulan lalu atau bahkan berita tahun lalu sebelum akhirnya sampai ditangan saya dalam bentuk potongan koran bekas bungkus tempe tersebut. Seperti kita tahu, pesawat N-250 itu sendiri mulai di produksi pada tahun 1995. Artikel itu saya baca berulang-ulang dan saya simpan. Entah berapa lama saya simpan artikel itu sebelum akhirnya kusut dan akhirnya hilang entah kemana. Belasan tahun setelah penemuan "harta karun" itu, isi dan visualusasi artikel itu masih terngiang di ingatan saya, sampai saat ini. Bahkan dapat saya katakan, apabila saat ini saya sangat menggemari sosok Prof. B.J. Habibie, maka berawal dari penemuan artikel dalam potongan koran bekas bungkus tempe belasan tahun lalu inilah kegemaran saya terhadap beliau muncul.

Pertanyaannya adalah, kenapa saya merasa begitu bahagia saat itu padahal apa yang saya peroleh hanyalah sebuah informasi dalam sebuah artikel berita yang termuat dalam potongan koran bekas pembungkus tempe? Jawabannya sangat sederhana. Karena tidak ada sumber informasi lain yang bisa saya dapatkan kala itu. Tidak ada koran yang utuh. Tidak ada koran yang up to date di desa kami. Satu-satunya koran yang sampai di desa kami ya koran dalam bentuk potongan-potongan bekas bungkus tempe tersebut.

Televisi dan radio juga masih sangat terbatas kala itu. Satu-satunya perpustakaan yang biasa “terpaksa” saya kunjungi adalah perpustakaan sekolah – saat SMP – yang sebenarnya saya seringkali merasa enggan memasukinya karena ketika saya memasukinya, selalu satu-satunya “manusia” yang ada disana hanyalah saya. Selebihnya hanya koleksi buku-buku berdebu dalam jumlah terbatas yang tersusun renggang sekali didalam rak-rak koleksi perpustakaan sekolah. Sama sekali tidak ada daya tarik untuk para siswa maupun para guru terpanggil untuk menyambanginya dan betah berlama-lama didalam satu-satunya perpustakaan disekolah kami tersebut. Bahkan, barangkali tidak ada petugas jaga yang benar-benar tertarik untuk menjaganya.

Pengalaman saya tersebut memang hanya salah satu keadaan yang pernah terjadi di masa yang lalu, namun keadaan tersebut juga dapat menjadi gambaran keadaan kesadaran literasi daerah secara umum kala itu. Saya berasumsi bahwa, yang berkesempatan untuk bersekolah saja minat literasinya seperti itu, apalagi yang tidak bersekolah, yang tidak dapat menjangkau bahan bacaan dan perpustakaan? Dan, apakah keadaan sekarang telah membaik? Meninjau data UNESCO, data hasil studi Most Littered Nation in The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, serta mengacu pada data PNRI diatas, keadaan sekarang tampaknya tidak jauh berubah.

Ketidakterjangkauan buku bacaan, ketiadaan perpustakaan umum, serta urgensitas kebutuhan masyarakat daerah akan akses informasi sudah selayaknya menggugah dan mendorong kita semua untuk memulai suatu tindakan menuju pemecahan persoalan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar