Senin, 22 Oktober 2018

Peranan Buku dalam Pendidikan Keluarga


Pangan, sandang, papan, pendidikan, serta hiburan adalah serangkaian kebutuhan dasar yang musti terpenuhi pada setiap anggota keluarga dalam setiap masyarakat. Salah satu kebutuhan mendasar dari sekian banyak kebutuhan yang musti terpenuhi dalam kehidupan berkeluarga adalah pendidikan keluarga.


Pendidikan dalam keluarga mempunyai dua pengertian; 1). keluarga sebagai pelaksana pendidikan dan 2). keluarga sebagai sasaran pendidikan.

Keluarga sebagai pelaksana pendidikan. 

Dalam pengertian ini, anggota keluarga yang lebih senior, misalnya ayah dan ibu, berlaku sebagai agen sosialisasi (pendidik) bagi anggota keluarga lainnya yang lebih junior, misalnya anak-anak. Ayah dan ibu, sebagai agen sosialisasi, memberikan pengajaran dengan mentransfer nilai-nilai keluarga, norma-norma sosial, nilai-nilai agama, dan lain sebagainya kepada anggota keluarga lainnya, khususnya anak-anak mereka.


Selain dengan memberikan pembelajaran secara langsung kepada anak-anak, orang tua, sebagai agen sosialisasi, juga dapat menyediakan buku-buku yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang tua untuk kemudian diberikan kepada anak-anak mereka. Dalam hal ini orang tua, sebagai agen sosialisasi, berperan penuh dalam memilih dan menentukan buku-buku apa saja yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh anak-anak.

Keluarga sebagai sasaran pendidikan.

Dalam pengertian ini, keluarga menjadi sasaran dari kegiatan sosialisasi (pendidikan). Setiap anggota keluarga, tanpa terkecuali, menjadi bagian dari sasaran kegiatan sosialisasi. Artinya, setiap anggota keluarga, sesuai dengan bidang dan porsinya masing-masing, musti mendapatkan pendidikan atau pembelajarannya masing-masing sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing dalam keluarga.

Dalam praktiknya, pendidikan keluarga dalam pengertian keluarga sebagai sasaran pendidikan ini, materi atau sumber pembelajaran diperoleh dari agen sosialisasi yang berasal dari luar keluarga, baik yang bersifat formal, informal, maupun nonformal. Misalnya, anak-anak mendapatkan pendidikannya secara formal dari sekolah dan madrasah. Buku-buku yang dibaca oleh anak-anak pun biasanya sesuai dengan arahan guru di sekolah atau madrasah atau paling tidak buku-buku yang dibaca anak-anak masih terkait dengan materi pembelajaran di sekolah. Sedangkan ayah dan ibu mendapatkan pendidikannya, baik secara informal maupun nonformal, misalnya dari komunitas tertentu yang diikuti oleh ayah dan ibu, dari kegiatan pelatihan, seminar, kajian dan majlis-majlis ilmu, atau dari membaca buku-buku.

Peranan buku dalam pendidikan keluarga menjadi begitu penting karena dalam praktiknya, tidak semua orang tua dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya atau anggota keluarga lainnya secara langsung. Hal itu dapat terjadi karena berbagai sebab, misalnya karena orang tua memang tidak cukup memiliki kapasitas untuk memberikan sosialisasi kepada anak-anak atau anggota keluarga lainnya. Hal demikian ini banyak terjadi pada masyarakat yang sedang berkembang dimana masyarakatnya tengah mengalami berbagai peralihan. Misalnya seorang petani yang lulusan sekolah dasar (SD) memiliki anak yang sedang menempuh sekokah menengah atas (SMA) atau bahkan sedang menempuh pendidikan tinggi (kuliah).

Dalam kondisi seperti di atas tentu peran sebagai pendidik yang melekat pada orang tua tidak dapat sepenuhnya berjalan, sedangkan orang tua tetap harus berperan sebagai agen sosialisasi atau pendidik bagi anak-anaknya selain dari peran-peran pendidik yang diperoleh dari institusi-institusi pendidikan dimana anak-anak menempuh pendidikan disana. Oleh karenanya, memfasilitasi dan atau mengarahkan anak-anak kepada bacaan-bacaan yang bermutu perlu dilakukan oleh setiap orang tua.

Lalu, bagaimana jika masih kesulitan dalam menyediakan buku-buku, masih kesulitan dalam membeli buku-buku - yang memang masih tergolong tidak murah bagi masyarakat daerah atau masyarakat yang sedang berkembang - dan belum cukup memiliki buku-buku bacaan di rumah? Tidak menjadi masalah. Orang tua dapat mengajak anak-anak mereka berkunjung ke perpustakaan umum, taman baca masyarakat, atau mengarahkan anak-anak agar memanfaatkan sebaik-baiknya perpustakaan di sekolahnya.

Dan, jangan lupa juga, orang tua juga perlu membaca buku-buku. Dengan aktif melakukan aktivitas membaca buku-buku, serta mendorong anggota keluarga lainnya untuk membaca buku-buku pula, maka kita telah menghidupkan geliat aktivitas belajar dan kegiatan pendidikan pada keluarga kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar