Rabu, 15 Februari 2017

Filosofi “Cakra-Wana”


Ilustrasi
Beberapa Sahabat bertanya kepada penulis, apa makna dari kata Cakrawana? Kata yang penulis gunakan sebagai judul tajuk yang sekaligus menjadi alamat dan identitas dari blog yang penulis buat ini; Cakrawana Inspirasi.


Secara harfiyah, kata “Cakrawana” penulis ambil dari bahasa Jawa yang terdiri dari gabungan dua kata, yaitu Cakra dan Wana (dalam ejaan dan aksen Jawa: Cokro & Wono). Cokro artinya roda atau lingkaran dan Wono artinya hutan, sehingga secara harfiyah Cakra-wana berarti “roda hutan”, “lingkaran hutan” atau “lingkungan atau ekologi hutan”. Sehingga dalam penggunaannya, penulis memaknainya dengan “siklus ekologi hutan”. Siklus ekologi hutan inilah yang menginspirasi Penulis karena didalamya kaya sekali akan inspirasi serta syarat filosofi yang begitu mendalam. Lalu, inspirasi dan filosofi apa yang dapat kita peroleh dari siklus ekologi sebuah hutan?

Hutan adalah sebuah mega industri, pabrik raksasa yang memproduksi serta membagikan produknya secara gratis untuk seluruh mahluk hidup di seluruh dunia, termasuk untuk manusia. Apa produk yang dihasilkan oleh hutan? Yup, tidak lain dan tidak bukan adalah oksigen yang kita hirup setiap saat untuk kita bernafas.

Seperti kita ketahui, oksigen (O2) adalah senyawa kimia yang sangat penting bagi berbagai kehidupun di muka bumi. Oksigen adalah unsur penting pertama yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup seluruh mahluk hidup di muka bumi, termasuk manusia. Oksigen bahkan jauh lebih utama bagi metabolisme tubuh daripada makanan dan air. Tubuh manusia mampu bertahan selama kurang lebih dua minggu tanpa makanan dan mampu bertahan selama 3 hingga 7 hari tanpa air, namun tanpa oksigen, tubuh manusia hanya akan mampu bertahan dalam hitungan beberapa menit saja. Yup, tanpa bernafas, manusia hanya mampu bertahan hidup dalam hitungan beberapa menit saja. 

Selain dibutuhkan untuk metabolisme tubuh mahluk hidup, oksigen juga dibutuhkan untuk kinerja berbagai macam mesin-mesin buatan manusia. Mesin mobil, motor, kapal, pesawat, dan mesin dalam kendaraan-kendaraan lain yang biasa kita kendarai itu, serta mesin-mesin idustri dan lain sebagainya, selain membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), ia tidak akan mampu beroperasi dan bekerja tanpa adanya udara beroksigen.

Selain pabrik raksasa yang memproduksi oksigen dalam jumlah tak terbatas, hutan juga merupakan mesin raksasa yang bertugas menyerap dan mengolah karbon dioksida (CO2), yaitu gas buang yang dihasilkan dari sisa metabolisme tubuh atau sisa pembakaran dalam ruang bakar mesin.

Dalam literatur yang penulis baca disebutkan bahwa tiga buah pohon berukuran sedang mampu menyerap karbon dioksida dan memproduksi oksigen dalam jumlah yang mampu mencukupi kebutuhan oksigen untuk seorang manusia dewasa. Maka bayangkan betapa banyak oksigen yang diproduksi serta karbon dioksida yang terserap oleh hutan yang beratus-ratus bahkan berjuta-juta hektar luasnya di muka bumi ini. Itu hanya salah satu fungsi dari sekian banyak fungsi dari hutan, dan tentu masih banyak lagi fungsi-fungsi lain yang dapat diperankan oleh hutan.

Disini Penulis perlu tekankan bahwa pohon berbeda dengan hutan. Pohon hanya salah satu unsur dari ekologi hutan, sedangkan ekologi hutan terbentuk atau tersusun dari beragam elemen yang kemudian membentuk sebuah system dalam hutan yang elemen-elemen tersebut tidak dapat terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Didalam hutan tidak hanya ada pohon-pohon. Disana ada batu, tebing, bukit, disana ada banyak bentuk kehidupan, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya, termasuk didalamnya tegakan pohon hutan, dan itu semua membentuk satu kesatuan. Dari semua unsur pembentuk hutan tersebut maka menghasilkan sebuah ekologi hutan, sebuah lingkungan hutan, termasuk suasana dan iklim didalamnya. Ketika satu pohon di hutan mati, pohon yang mati tersebut akan tergantikan atau teregenerasi oleh pohon berikutnya. Maka siklus ekologi hutan berlangsung secara terus-menerus tanpa henti, selama hutan itu sediri masih ada.

Masya Allah. Allah Swt. melalui mega industri-Nya yang disebut hutan, memproduksi produknya dalam jumlah yang tak terbatas dan membagikan produknya tersebut secara cuma-cuma alias gratis kepada seluruh kehidupan di berbagai penjuru bumi, secara terus-menerus tanpa henti. Amazing, bukan!

Melalui uraian tersebut diatas, kita dapat mengambil suatu inspirasi. Inspirasi dari “siklus ekologi hutan” tersebut. Sebagai manusia, kita musti berusaha untuk menjadikan diri kita pribadi yang mampu menebarkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang, serta menjadi pribadi yang mampu sebisa mungkin menjaga diri dan meredam segala hal yang berpotensi menimbulkan hal-hal negatif, hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Bukan malah sebalikya, sedikit sekali bermanfaat bagi orang lain, malah menebar berbagai kebencian dan kemudharatan kepada semua orang.

Ilustrasi
Selain itu, sebagai mahluk sosial kita juga musti menyisihkan sedikit sumber daya dan energi yang kita miliki, dalam hal ini sedikit kemampuan untuk berbagi kemanfaatan yang kita miliki, untuk kita sharing kemanfaatan tersebut untuk orang-orang disekitar kita. Sumber daya dan energi yang kita miliki tentu dapat berupa apa saja dan itu banyak sekali macamnya. Kewenangan atau kekuasaan, materi, tenaga, pikiran, doa, adalah contoh ragam sumber daya dan energi yang dimiliki oleh setiap orang. Maka kembali lagi kepada setiap masing-masing kita sebatas mana kita mampu sharing kemanfaatan tersebut. Memang, kita tidak akan mampu membagikan kemanfaatan layaknya hutan membagikan kemanfaatannya kepada seluruh kehidupan, namun paling tidak, kita dapat melakukan hal-hal kecil sederhana yang dapat dengan mudah kita lakukan, apapun itu, sebuah aksi atau tindakan sederhana yang positif, lillaahi ta’aala, insya Allah akan bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, dll.)

*) Sumber gambar ilustrasi: Google Image.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar